Langsung ke konten utama

[KAMUS 2021] Generasi Z dan Teknologi: Masa Depan Generasi Z Dipengaruhi Teknologi?

  ― article by Louna Aquilla (X-4)



Tahu ga si kamu? Generasi Z disebut juga sebagai iGeneration atau generasi internet. Generasi ini selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi. Gadget sudah menjadi pegangan sejak kecil. Maka secara otomatis pengenalan teknologi dan dunia maya ini begitu berpengaruh pada kepribadian mereka dan perkembangan kehidupan di masa depan nanti.


Hal ini membuat masa depan sektor teknologi semakin cerah di tangan generasi Z. Dilansir Tirto.id yang mengutip survei Nielsen, Generasi Z mempengaruhi perputaran ekonomi dunia sebagai 62 persen konsumen pembeli produk elektronik. Hal ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang segala sesuatunya terkoneksi dengan internet.


Teknologi memiliki peran besar dalam memengaruhi masa depan generasi Z, dengan peranan bahwa teknologi akan menggugah dan menciptakan versi yang berbeda dari   diri mereka, namun dengan cara yang lebih efisien dan menghemat waktu mereka.

Ini menginspirasi generasi Z untuk menjadi berbeda, dengan kata lain mereka akan   memilih untuk berani tampil beda.


Teknologi juga memiliki pengaruh besar bagi masyarakat karena sebagian dari informasi akan tampil di masyarakat dan memiliki penilaian dari berbagai sisi oleh   berbagai lapisan masyarakat. Hingga dengan kata lain, generasi Z memiliki kemungkinan besar untuk dapat memengaruhi masyarakat dengan andil mereka dalam dunia teknologi dan informasi. Beberapa dari mereka memiliki keinginan menjadi influencer seperti menjadi Youtuber atau menjadi gamer, cita-cita yang tidak terpikirkan oleh generasi sebelum generasi Z.

 

Teknologi Yang Memengaruhi Cita-Cita Gen Z

Terus cita-cita apa, sih, yang paling booming di kalangan Gen Z?

Ada anggapan bahwa menjadi YouTuber bisa mendatangkan uang dengan mudah. Padahal, menjadi YouTuber tidak sesederhana yang terlihat. Seperti yang dinyatakan oleh Kevin Hendrawan –salah satu selebritas media sosial paling berpengaruh saat ini, YouTuber pun harus menutup biaya produksi yang bisa membuat tekor.


Risiko lainnya adalah pekerjaan tersebut bisa hilang bila pemerintah menutup situs  Youtube. Risiko ini juga disinggung dalam penelitian yang dilakukan oleh Mathias Bärtl pada 2018 di Amerika Serikat. Menurut Bärtl, 96,5 persen dari semua yang mencoba menjadi YouTuber tidak akan menghasilkan cukup uang dari iklan untuk memecahkan garis kemiskinan di Amerika Serikat.


Sementara keinginan menjadi gamer digandrungi oleh Generasi Z laki-laki. Profesi tersebut menempati peringkat kedua (14,3 persen) setelah dokter (15,1 persen). Angka pemain gim dari Generasi Z juga semakin meningkat; ini dipengaruhi harga konsol, akses internet, dan pertumbuhan mobile game di gawai. Tak hanya itu, adanya kompetisi gim lokal dan internasional, juga pelatihan dengan tim profesional, membuat profesi ini begitu menarik untuk digeluti. Salah satunya adalah Aaron ‘Mindfreak’ Leinhart yang mulai meniti karier sebagai gamer pada usia 14 tahun.


Lalu, generasi Z memiliki inspirasi lain dalam menggunakan teknologi dan informasi sebagai saran untuk mendapatkan uang. Kembali lagi, ide terbanyak dan paling menguntungkan yang mereka dapatkan adalah dengan menjadi influencer aktif yang    menginspirasi, memiliki banyak pengikut, dan terutama mendapatkan uang.


Dalam riset yang dilakukan oleh The Center for Generational Kinetics di 2017, Generasi Z mendapatkan penghasilan mereka sendiri lebih awal dibandingkan generasi sebelumnya. Gen Z secara aktif bekerja untuk mendapatkan uang di usia muda, baik melalui pekerjaan sampingan atau lepas. Tak heran bila bidang pekerjaan   yang diminati oleh mahasiswa Generasi Z adalah pengusaha –sebesar 23 persen.


Dilihat berdasarkan jenis kelamin, mayoritas laki-laki memilih menjadi pengusaha (33,1 persen) dan bekerja di perusahaan teknologi besar (15,2 persen) seperti Apple, Google, dan Facebook. Sedangkan, selain menjadi pengusaha (17,6 persen), perempuan lebih memilih untuk bekerja di bidang kesehatan (24,2 persen).


Terlihat jelas bahwa teknologi begitu memengaruhi Gen Z dalam menentukan pilihan untuk masa depan. Oleh sebab itu, penting untuk memberikan arahan di tengah canggihnya teknologi dan derasnya arus informasi. Keinginan untuk memberi impresi dan dampak di masyarakat bisa menjadi karakteristik dari Gen Z yang bisa membawa harapan positif. Namun, tidak menutup kemungkinan, alih-alih menjadi harapan malah menjadi bumerang bagi masyarakat.

 

 

Sumber Referensi:

https://stiki-indonesia.ac.id/2021/02/11/karakter-generasi-z-si-mahir-teknologi- gemar-inovasi/

https://mudanews.com/sosial-budaya/2020/02/06/pengaruh-teknologi-terhadap- masa-depan-generasi-z/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

When Reality Hits Worse Than a Hangover: It’s Gen-Z’s Survival Guide!

Artikel oleh Naya Shakila XII-8 “When Reality Hits Worse Than a Hangover: It’s Gen-Z’s Survival Guide!”           Hi, Smansa-fellas! Kembali lagi bersama blog CIRRUS karya remaja-remaja unik SMANSA! Gimana nih kabar temen-temen semua pasca liburan sekolah? Ada yang baca ini sambil males-malesan masuk sekolah? atau… males ketemu temen baru sehabis naik kelas? Waktu liburan sudah usai, tapi rasanya... HADUUHHH. Mata kayak dilakban, air pagi serasa duri, maunya sih liat alam dan gedung tinggi, jalan-jalan sambil pakai baju cantik. Eh nyatanya, udah harus balik sekolah, bergelut dengan tugas yang… ADUH! gak ada habisnya. Nah, maka dari itu, Blog CIRRUS kali ini akan membahas mengenai.. “CARA MENGATASI POST-HOLIDAY SYNDROME DENGAN CARA YANG GEN Z CODED BANGET!”           Teman-teman pembaca, sebagai Gen-Z pasti udah akrab banget nih sama feeling ini. Tapi tenang, jangan sampe Post-Holiday Syndrome bikin kita stuck di “delulu” mode p...

[KAMUS 2021] Generasi Z dan Teknologi: Cyberbullying

 ― article by Artia Raisha (X-1) Hidup di era revolusi industri 4.0, menuntut kita sebagai anak muda untuk mahir dalam menggunakan teknologi. Namun, alangkah baiknya sebelum menggunakan teknologi kita dapat mengetahui etika dalam menggunakan teknologi tersebut, termasuk dalam penggunaan teknologi        digital. Kalian sudah pernah dengar cyberbullying? Cyberbullying adalah perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Kejahatan seperti ini bermula dari perilaku merendahkan martabat dan mengintimidasi orang lain melalui media maya. Tindakan bullying seperti ini lebih berbahaya, karena dapat dilakukan siapa  saja, kapan saja, dan dimana saja. Bagaimana contoh dari cyberbullying ? Menyebarkan sesuatu yang bukan fakta atau meyebarkan hal memalukan tentang seseorang, mengirim pesan dengan kata-kata yang tidak pantas yang berdampak pada mental seseorang, atau membuat sebuah akun palsu dengan mengatasnamakan seseorang kemudian men...

Reset & Refresh : How to Start the New School Term with a Positive Mindset

Artikel oleh Ratu Sinta (CIRRUS 48)     Halo, sivitas SMANSA! Kembali lagi bersama blog CIRRUS, blog karya remaja-remaja penuh semangat dan cerita dari SMANSA! Gimana kabarnya nih teman-teman? Semoga selalu sehat dan semangat ya! Siapa di sini yang waktu liburan udah bilang dengan lantang, “Semester 2 aku harus semangat!” Tapi… pas masuk sekolah, liat kelas langsung ngantuk, liat kantin langsung pengen jajan, liat PR langsung pura-pura gak liat?      Iya, kita semua pasti relate banget! Liburan memang sudah lewat, tapi semangat buat semester baru tetap harus ada dong! Sekarang saatnya kita reset & refresh , menyambut semester dua dengan hati yang lebih ringan dan semangat yang baru. Yuk bareng-bareng kita mulai lagi dengan harapan segar, karena setiap tantangan di semester ini adalah kesempatan buat kita berkembang dan jadi lebih baik. Ayo, kita hadapi semuanya dengan pikiran positif! Bulan demi bulan udah kita lewati bareng, dan sekarang kita udah sampai d...