Langsung ke konten utama

[KAMUS 2021] Generasi Z dan Teknologi: Tiga Generasi dalam Bermedia Sosial

  ― article by Rizki Aulia (XI-3)



        Seberapa banyak dari hidupmu yang bisa kami dapatkan darimu?” Sebuah pertanyaan dari media sosial pada era modern ini. Setiap unggahan, tweet, hingga cerita merupakan bagian dari hidup manusia yang diberikan secara cuma-cuma kepada orang di balik layar. Bahkan saat jari yang menggulir layar berhenti sejenak, memberikan suka atau komentarnya, jari itu sedang diawasi. Kini, hampir seluruh lapisan masyarakat luput dengan fakta itu, berkelana jauh di sosial media untuk membagikan hidupnya sendiri. Masyarakat itu sendiri terbagi menjadi tiga generasi yang aktif dalam bersosial media, yakni Boomer, Milenial, dan Generasi Z.

        Facebook menemukan bahwa mereka dapat membelokkan perilaku dan emosi dunia yang sebenarnya tanpa memicu kesadaran penggunanya.” Dikutip dari serial dokumenter Netflix, Social Dilemma. Facebook sendiri diluncurkan pada tahun 2004, awal mula dari kehidupan bermedia sosial. Seperti semut yang mendekati gula, Facebook diramaikan oleh hampir seluruh kalangan. Lambat laun berkembangnya media sosial, orang-orang meninggalkan Facebook untuk melihat dunia yang lebih baru. Akan tetapi, terdapat generasi Boomer yang lebih banyak untuk menetap di Facebook. Hal itu disebabkan oleh laman Facebook yang lebih mudah digunakan dan minimnya pembaruan sehingga tidak perlu lagi mempelajari fitur baru. Maka dari itulah kebanyakan Boomer dan beberapa Milenial memilih untuk tetap di Facebook.

        Kami ingin memikirkan bagaimana caranya memanipulasimu secara psikologis secepat mungkin.” Media sosial secara tersirat berusaha membuat penggunanya bergantung pada mereka. Dua tahun setelah Facebook, tepatnya pada tahun 2006, Twitter didirikan oleh Jack Dorsey. Muka Twitter saat itu masih termasuk sederhana, mirip dengan Facebook sehingga banyak pengguna yang bermigrasi menggunakan Twitter. Pembaruan Twitter cenderung lebih tertata dan tidak berubah secara signifikan sehingga generasi Boomer memilih untuk bergabung ke Twitter, begitu pula dengan mayoritas generasi Milenial. Namun, lahirnya media sosial yang lain membuat orang-orang tertarik dan terus aktif berganti media sosial, bahkan Twitter sempat sepi karena beberapa penggunanya memilih untuk berpindah media sosial. Setelah gelombang sepinya selesai, Twitter kembali diramaikan oleh penggemar K-Pop yang mendapatkan sumber informasi dan unggahan terbaru idolanya. Hingga sekarang, Twitter kembali berkicau, fitur terus bertambah dan pengguna yang mulai kembali ke Twitter. Tidak hanya generasi Boomer dan Milenial, sekarang ini Twitter sudah ikut disesaki oleh Generasi Z.

            Media sosial mulai menggali lebih dalam dan lebih dalam ke kepala dan mengambil alih harga diri dan identitas anak-anak.” Kurang lebih merupakan gambaran dari Instagram. Sejak kehadirannya pada 2010 di iOS kemudian 2012 di Android, Instagram dipenuhi oleh Generasi Z. Bagaimanapun, Instagram diluncurkan saat Generasi Z sedang menjelajahi dunia teknologi di bawah pengawasan generasi Milenial. Fitur orisinilnya termasuk sederhana, tidak jauh berbeda dengan Facebook, fungsi utamanya adalah untuk mengunggah foto dan video. Di sisi lain, Instagram berkembang dengan pesat, bukanlah tempat yang mudah dipelajari untuk generasi Boomer. Namun, bagi Milenial dan Generasi Z perubahan-perubahan dengan fitur baru adalah apa yang mereka butuhkan. Semakin maju fiturnya, Instagram tidak hanya digunakan untuk mengunggah foto diri sendiri lagi, melainkan sudah menjadi area promosi acara hingga tempat berdagang secara global. Akan tetapi, Instagram perlahan-lahan menjadi tempat yang tidak aman bagi Generasi Z. Jumlah suka, jumlah komentar, hingga penonton cerita membuat sejumlah Generasi Z mempertanyakan kelayakan diri mereka sendiri.

            “‘Mengetik…’ Bukanlah untuk menghemat waktumu tapi untuk tetap membuatmu terhubung lebih lama.” Di setiap jejaring sosial, selalui dijumpai fitur mengirim pesan, yang dikenali sebagai Direct Message (DM). Bagaimanapun, DM hanya digunakan untuk mengobrol secara informal, yang fiturnya juga terbatas. Kemudian, BlackBerry Messanger yang sempat digunakan secara massal tumbang. Posisinya lalu digantikan oleh WhatsApp Messanger. Secara fitur dan cara pemakaian, WhatsApp lebih lengkap dan mudah digunakan. Terdapat fitur mengirim pesan, bertelepon, hingga panggilan video di WhatsApp, yang memudahkan ketiga generasi untuk saling berkomunikasi secara praktis.

            Jika kau tidak membayar, maka kau adalah produknya.” Kemajuan teknologi ini terhitung pesat namun juga mengerikan. Di setiap perusahaan, baik Facebook, Twitter, Instagram, bahkan WhatsApp, menjual belikan data penggunanya adalah hal yang biasa. Seringkali manusia khawatir dengan kebocoran data pribadi, tapi lupa bahwa mereka sendiri yang membeberkan kepribadian mereka secara gratis. Tiga generasi dalam tiga aplikasi yang berbeda, disamakan oleh kemauan untuk memberikan data pribadi mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

When Reality Hits Worse Than a Hangover: It’s Gen-Z’s Survival Guide!

Artikel oleh Naya Shakila XII-8 “When Reality Hits Worse Than a Hangover: It’s Gen-Z’s Survival Guide!”           Hi, Smansa-fellas! Kembali lagi bersama blog CIRRUS karya remaja-remaja unik SMANSA! Gimana nih kabar temen-temen semua pasca liburan sekolah? Ada yang baca ini sambil males-malesan masuk sekolah? atau… males ketemu temen baru sehabis naik kelas? Waktu liburan sudah usai, tapi rasanya... HADUUHHH. Mata kayak dilakban, air pagi serasa duri, maunya sih liat alam dan gedung tinggi, jalan-jalan sambil pakai baju cantik. Eh nyatanya, udah harus balik sekolah, bergelut dengan tugas yang… ADUH! gak ada habisnya. Nah, maka dari itu, Blog CIRRUS kali ini akan membahas mengenai.. “CARA MENGATASI POST-HOLIDAY SYNDROME DENGAN CARA YANG GEN Z CODED BANGET!”           Teman-teman pembaca, sebagai Gen-Z pasti udah akrab banget nih sama feeling ini. Tapi tenang, jangan sampe Post-Holiday Syndrome bikin kita stuck di “delulu” mode p...

[KAMUS 2021] Generasi Z dan Teknologi: Cyberbullying

 ― article by Artia Raisha (X-1) Hidup di era revolusi industri 4.0, menuntut kita sebagai anak muda untuk mahir dalam menggunakan teknologi. Namun, alangkah baiknya sebelum menggunakan teknologi kita dapat mengetahui etika dalam menggunakan teknologi tersebut, termasuk dalam penggunaan teknologi        digital. Kalian sudah pernah dengar cyberbullying? Cyberbullying adalah perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Kejahatan seperti ini bermula dari perilaku merendahkan martabat dan mengintimidasi orang lain melalui media maya. Tindakan bullying seperti ini lebih berbahaya, karena dapat dilakukan siapa  saja, kapan saja, dan dimana saja. Bagaimana contoh dari cyberbullying ? Menyebarkan sesuatu yang bukan fakta atau meyebarkan hal memalukan tentang seseorang, mengirim pesan dengan kata-kata yang tidak pantas yang berdampak pada mental seseorang, atau membuat sebuah akun palsu dengan mengatasnamakan seseorang kemudian men...

Reset & Refresh : How to Start the New School Term with a Positive Mindset

Artikel oleh Ratu Sinta (CIRRUS 48)     Halo, sivitas SMANSA! Kembali lagi bersama blog CIRRUS, blog karya remaja-remaja penuh semangat dan cerita dari SMANSA! Gimana kabarnya nih teman-teman? Semoga selalu sehat dan semangat ya! Siapa di sini yang waktu liburan udah bilang dengan lantang, “Semester 2 aku harus semangat!” Tapi… pas masuk sekolah, liat kelas langsung ngantuk, liat kantin langsung pengen jajan, liat PR langsung pura-pura gak liat?      Iya, kita semua pasti relate banget! Liburan memang sudah lewat, tapi semangat buat semester baru tetap harus ada dong! Sekarang saatnya kita reset & refresh , menyambut semester dua dengan hati yang lebih ringan dan semangat yang baru. Yuk bareng-bareng kita mulai lagi dengan harapan segar, karena setiap tantangan di semester ini adalah kesempatan buat kita berkembang dan jadi lebih baik. Ayo, kita hadapi semuanya dengan pikiran positif! Bulan demi bulan udah kita lewati bareng, dan sekarang kita udah sampai d...